tarif PLN mencekik mahasiswa
Mulai bulan maret 2008 PLN mengambil kebijakan “tarif disintensif” . whola… jika kita ingin dapet diskon maka harus hemat tapi bila melebihi pemakaian nasional maka kita kena tambahan biaya. Dengan cara seperti ini PLN memaksa kita untuk hemat. Tapi yang menjadi patokan adalah pemakaian rata2 nasional. Nasional? dimana om ngitungnya? kan tiap2 daerah berbeda? tiap2 orang juga berbeda? tiap orang punya kebutuhan yang berbeda. Menurut saya pemakaian listrik bukanlah masalah hemat atau boros. Ini masalah kebutuhan bro! saya yakin industri kecil dan rumah tangga bakalan keteteran dalam masalah listirk, mengingat mereka menggunakan listrik dari PLN.
hmm… bukan industri kecil saja, mahasiswa yang notabene harus berhemat sana-sini juga ikut kena imbasnya! Pembayaran listrik saya biasaya hanya sekitar 80rb-90rb tiap bulan, tapi bulan maret kemaren langsung naik 125 ribuan! whola… asem tenan! rinciannya disini ada 3 komputer yang akan sering aktif (mahasiswa gt lhoh!) soale butuh bangetz! truz lampu paling kamar masing2 saja yang hidup! itupun kalo siang pasti sering matinya karena ditinggal kuliah dari pagi sampai sore, truz kalo malem juga ga terlalu banyak pemakaian! tetep aja pemakaian listriknya akan melebihi rata-rata nasional! Ini yang membuat mahasiswa yang membayar listrik jadi ketir-ketir, sumpek, sambat, lan sedoyonipun. Mau ga mau harus menambah penghematan makan neh buat alokasi dana pembayaran listrik. Capee… dech….
Walaupun begitu kebijakan ini cukup bagus, namun harus dikoreksi masalah standarnya! menurut saya lebih baik standarnya diganti standar lokal! karena begini pemakaian listrik rata-rata rumah tangga di Jakarta tentunya akan berbeda dengan pemakaian listrik rata-rata di daerah lain apalagi pedesaan. ya to? PLN harus banyak intropeksi, layanan harus lebih ditingkatkan! mengingat banyak masyarakat dan pelaku industri yang komplain.
semoga PLN bisa lebih baik ke depannya.



Leave a Reply